Skip to Content

Saturday, August 24th, 2019

Dari Purbalingga Merambah Dunia DESAINER muda Sheila Agatha Wijaya, 25, mengaku grogi ketika orang nomor satu negeri ini mengunjungi dirinya bersama desainer lain saat gelaran pop up shop… 0 … 23 June 2016, 06:00 WIB

Closed
by June 22, 2016 General

DESAINER muda Sheila Agatha Wijaya, 25, mengaku grogi ketika orang nomor satu negeri ini mengunjungi dirinya bersama desainer lain saat gelaran pop up shop di Toko Fenwick di Kawasan Bond Street, London, Inggris, pada April lalu.

Apalagi, waktu itu, Presiden Joko Widodo menyempatkan berdialog dengan para perancang muda alumni Indonesia Fashion Forward tersebut.

“Ya bertemu dengan Presiden Jokowi sangat mengesankan. Apalagi pertemuannya bukan di Indonesia, melainkan di London, Inggris. Ternyata, orangnya memang seperti itu, apa adanya, tidak dibuat-buat,” kata Sheila saat berbincang dengan Media Indonesia di bengkel baju miliknya di Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng), Senin (6/6).

Dengan merek baju Sean & Sheila, ia mengungkapkan, hanya dalam dua hari membuka ‘lapak’ di department store tertua di Inggris itu, baju-baju koleksinya sudah ludes terjual.

“Hanya dalam tempo dua hari, koleksi baju Sean and Sheila langsung ludes terjual. Baju yang dibawa adalah jenis kimono, jumlahnya ada 10 yang sold out,” ujar perempuan muda yang merampungkan kuliah desain di Malaysia dan Singapura itu.

Pembukaan pasar di London tersebut, kata Sheila, sebagai pintu masuk untuk memasarkan produk-produknya ke negara Eropa lainnya.

“Kebetulan, kami memproduk baju ready to wear, artinya mendesain baju untuk dijual langsung ke konsumen. Dengan adanya market yang telah terbuka di London, akan menjadi tonggak pemasaran ke negara-negara Eropa lain. Dalam waktu dekat, kami juga bakal menjajaki pasar di Tokyo, Jepang,” kata Sheila yang ditemani partner bisnisnya, Sean Loh.

Sebelumnya, Sheila juga mendapat kesempatan sebagai satu-satunya desainer yang tampil di Mercedes-Benz Fashion Week di Australia pada 2014.

Undangkan pergelaran busana kerap bermunculan setelah 2013, Sheila memenangi Harpers Bazaar New Generation Fashion Designer Award di Bangkok, Thailand.

Tak hanya itu, ia juga meraih The Best Emerging Designer of the Year dari Elle Award.

Prestasi demi prestasi yang diukir perempuan muda asal Purbalingga itu tidak lepas dari kerja keras yang dilakukannya.

Bahkan, saat ini ia telah memiliki sejumlah outlet (gerai) di Singapura ada dua tempat dan satu gerai daring di Malaysia, selain di London.

“Kalau di Indonesia, toko yang menjual Sean and Sheila berada di Galeries Lafayette, Mal Pacific Place, Jakarta. Harga yang kami tawarkan mulai Rp1,2 juta hingga Rp20 juta. Tergantung kualitasnya,” jelasnya.

Konsep unik

Bersama dengan Sean Loh, Sheila terus mengeksplorasi ide untuk menelurkan konsep-konsep baru dalam karya-karyanya.

Secara umum, kata Sheila, ia menggabungkan konsep tradisional atau zaman dulu yang dimodernisasi dengan konsep Western.

Ia juga mendapat masukan yang baik dari dua desainer Didi Budiarjo dan Joe Lim.

“Dalam prosesnya, setelah menuangkan ide dalam desain, saya kemudian mencari kain yang cocok. Setelah itu, baru mulai membuat koleksi baju,” ujarnya.

Sheila mengatakan passion-nya ialah ready to wear.

“Namun, di Indonesia, konsumen ready to wear masih perlu diedukasi. Karena sejauh ini, penghargaan yang lebih baik masih berasal dari orang asing. Meski demikian, saya harus terus berusaha untuk melakukan edukasi kepada para konsumen,” tegasnya.

Konsep yang ia tawarkan tidak lepas dari perjalanannya yang mulai menyukai bidang desain sejak waktu remaja.

Begitu lulus SMA Negeri 1 Purwokerto, ia menjatuhkan pilihan pada Raffles Design Institute di Malaysia jurusan fashion designer untuk diploma.

“Setelah itu, saya menajutkan S-1 pada Raffles Design Institute di Singapura,” jelasnya.

Lulus dari Raffles Design Institute Singapura pada 2011, ia menjadi konsultan fesyen untuk salah satu stasiun televisi Singapura, yakni Media Corp.

Tahun berikutnya, Sheila bergabung dengan salah satu label bridal di ‘Negeri Singa’ itu.

“Baru setelah itu, saya kembali ke Indonesia untuk memulai bisnis fesyen di sini. Namun, kembali ke Indonesia, bukan berarti hanya memasarkan produk di Indonesia semata. Memang, produknya tetap di sini, tetapi pemasarannya dilakukan di dunia global,” kata Sheila.

Ia terus berkeliling ke sejumlah negara untuk mengembangkan pasar.

Mulai produksi hingga pemasaran dipegang Sheila dan Sean Loh, maka tidak mengherankan bila keduanya harus memiliki tenaga ekstra.

“Jika produsen lain sudah ada tenaga pemasarannya, kami memulai dari memproduksi yakni membuat desain, mencari bahan, memproduksinya hingga pemasarannya dilaksanakan kami sendiri. Makanya, kami terus berkeliling dan tidak tinggal di satu kota saja seperti di Purbalingga atau Jakarta. Namun, terus mobile,” jelasnya.

Meski dari hulu sampai hilir Sheila yang melakukannya, hal itu masih dapat ia atasi walaupun kerap terjadi permintaan lebih tinggi jika dibandingkan dengan jumlah produksi. (M-4)

BIODATA

Nama: Sheila Agatha Wijaya
Tempat, tanggal lahir: Purwokerto, 15 November 1990
Keluarga : Anak kedua dari tiga bersaudara
Ayah: Subagio Wijaya
Ibu: Nathalina Veriana
Pendidikan :
S-1 Fashion Design Raffles Design Institute Singapore
D-3 Fashion Designer Raffles Design Institute Malaysia
SMA 1 Purwokerto
SMP 1 Purbalingga
SD Pius Purbalingga
Penghargaan:
2013 Harpers Bazaar New Generation Award Winner of Indonesia
2013 The Best Emerging Designer of the Year from Elle Award

Previous
Next