Skip to Content

Monday, August 19th, 2019

Jeck Kurniawan Siompo Pui: Animal Pop di Pentas Dunia Aneka gerakan yang terinspirasi dari hewan, tarian tradisional nusantara, hingga modern, ia padukan dalam pergelaran di Jepang hingga Jerman. 2 … 2 Juni 2016, 09:25 WIB

Closed
by June 2, 2016 General

SUARA gemuruh panggung itu masih terngiang kencang di telinga Jecko Siompo. Meski kejadiannya hampir satu dekade lalu, kenangan itu tak lekang dari benaknya.

Tahun 1997 menjadi tahun sakral bagi pemilik nama lengkap Jeck Kurniawan Siompo Pui. Saat itu, ia memenangi kompetisi yang diadakan di Gedung Kesenian Jakarta.

Kesuksesan itu menjadi awal langkah kecilnya melanglang dunia. Setahun berikutnya, seorang kurator salah satu festival tari di Amerika tertarik pada Jecko. Ia pun diundang belajar tarian hip-hop di Amerika, tepatnya di Portland, Maine, AS. Di sana, awal perkenalannya dengan tari modern kontemporer.

“Saya enggak tahu. Saya beruntung banget. Dia suka banget sama saya,” ujar pria asal Papua itu.

“Sudah kamu ke sana, kamu tampil, nanti kamu workshop, ikut kelas-kelas dance,” lanjutnya sembari menirukan ucapan kurator yang mengajaknya.

Jecko mendapat banyak pengalaman sedari awal perjalanannya ke Amerika. Ia bergelut dengan banyak aliran gerak, mulai hip-hop sampai modern dance. Proses berinteraksi dengan sesama penari di Amerika juga turut membawa Jecko untuk lebih menyelami budaya Barat.

“Jadi di situlah aku ngerti budaya Barat lebih kental lagi,” tegasnya.

Mengangkat lokal
Setelah selasai dengan proses di negeri orang, Jecko justru tidak terpukau dengan indahnya tarian yang dipelajarinya selama di Amerika. Justru sebaliknya, ia semakin punya tekad untuk membuat suatu kreasi satuan gerak ala Indonesia. Jecko pun pulang dengan satu impian baru.

“Itu yang membuat saya akhirnya pulang sehingga aku mencoba mengawinin dari budaya purba, budaya Indonesia, dan budaya Barat,” lanjutnya.

Jecko memang telah menari sejak masih belia. Jecko kecil belajar di sanggar tari tradisional Rawori Dok 8 Bawah, Jayapura, Papua. Ia lahir di Jayapura pada 1975 dan tinggal berpindah-pindah. Jecko pernah tinggal di pesisir pantai Fak-Fak, Jayapura, hingga pedalaman Wamena yang merupakan daratan tinggi pegunungan yang jelas memiliki perbedaan dalam budaya, kebiasaan, cara bertahan hidup, hingga pola berpikir.

Setelah menyelesaikan sekolah di SMA Negeri 2 Jayapura Utara, pada 1994, Jecko melanjutkan kuliah di jurusan tari Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Tak hanya tari Papua yang ia pelajari, tetapi juga tari dari daerah lain, seperti Pulau Jawa dan Sumatra. Singkat kata, keinginan untuk mencipta telah membawanya pada eksplorasi gerak Nusantara, dari Sabang sampai Merauke.

Pengalaman menimba ilmu gerak di IKJ membuatnya membulatkan tekad untuk mencipta sebuah karya di bidang tari.

“Saya ingin membuat sesuatu yang berbeda,” terangnya.

Temukan Animal Pop Dance
Kurun beberapa waktu terus bereksperimen dengan gerakan estetis, hingga Jecko menemukan bentuknya. Ia berhasil mencipta gerak tari pop yang berbeda dengan lain. Gerak yang lebih dengan mempunyai nilai seni, budaya, sekaligus tradisi. Itulah Animal Pop Dance.

Tempat asal serta kultur budaya menjadi pemacunya. Hal itu lalu menjadi bahan bakar utama setiap karyanya. Keunikan dan orisinalitas menjadi ciri utama dalam setiap karya gerak garap­annya. Paduan antara pengalaman dan daya eksplorasi telah menjadikan Jecko sebagai koreografer Indonesia bertaraf internasional.

Animal ialah wujud pencarian Jecko dalam lingkup budaya dan tradisi Indonesia, sedangkan pop adalah bentuk yang diperoleh Jecko kala belajar tari di Amerika. Perpaduan keduanya melahirkan genre Animal Pop.

Animal Pop adalah sebuah perpaduan menarik dari tarian pribumi dan tarian urban masa kini. Gerakan dalam tarian tradisi yang sering bersumber dari ge­rak­an hewan, seperti burung, kanguru, reptil, ikan, kera, dan lain-lain. Semua gerak dikombinasikan dengan gerakan tarian modern masa kini. Jadilah gerak­an energik yang begitu indah dengan menirukan berbagai gerak binatang.

“Ada semacam budaya pop dan lokal, jadi garis benang merah animal adalah pencarian saya dari Aceh sampai Merauke untuk spirit binatang,” terangnya.

Animal Pop di pentas dunia
Untuk mengibarkan Merah-Putih di kancah Internasional, perjalanan Jecko sebelum dan sesudah mendapati beasiswa tak semua mulus. Sejak belajar di IKJ pada 1994, Jecko telah memulai langkah besarnya dengan berlatih tari di pelataran Taman Ismail Marzuki Jakarta. Hampir tiap malam ia habiskan waktu untuk berlatih gerak.

“Saya sampai dikatain orang gila,” kenangnya.

Konsisten dan komitmen menjadi faktor utama seorang Jecko untuk melebarkan sayap sampai ke mancanegara. Seusai berproses pascakepulangan dari Amerika, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Folkwang Tanz Studio-Jerman pada 2002.

Jacko mempunyai visi yang lebih uta­ma dari sekedar unjuk gigi. Ia punya kesadaran untuk mengembangkan genre Animal Pop sebagai milik Indonesia. Itulah sebabnya nama Jecko lebih dikenal di kalangan pemerhati tari jika dibandingkan dengan penikmat hiburan.

“Makanya kalau ke luar negeri ke tempat-tempat pendidikan, tempat-tempat yang serius, bukan tempat hiburan,” tegasnya lagi.

Itulah kenapa Animal Pop mampu berpentas di dunia tari internasional. Karyanya pernah mampir di Kampnagel Theatre Hamburg Jerman (2010), tampil di Esplanade dalam rangka Singapore Art Festival (2009), dan dB Art festival di Osaka Jepang (2008). (M-1)

Previous
Next