Skip to Content

Wednesday, November 20th, 2019

Menikmati Indahnya Melbourne dari Ketinggian 120 Meter

Closed
by August 11, 2016 General

MELBOURNE, KOMPAS.com – Menikmati panorama suatu tempat dari ketinggian membuat perjalanan menjadi sempurna. Bisa dari gedung tertinggi, kawasan puncak bukit atau yang lebih modern, kincir ria.

Jika Las Vegas punya High Roller, Singapura punya Singapore Flyer dan London dengan London Eye, maka Melbourne punya Melbourne Star Observation Wheel.

Dari ketinggian 120 meter, panorama ciamik kota yang berturut-turut didapuk menjadi Kota Paling Layak Huni di Dunia itu terhampar luas di depan mata.

“Selamat datang di Melbourne Star,” kata Jason Bajada, salah satu petugas, di pintu masuk wahana Melbourne Star, dengan ramah. Dia bertugas menyambut setiap pengunjung yang baru saja naik dari lantai pertama tempat loket pembelian tiket.

Sore itu, Jason menjelaskan bahwa Melbourne Star yang terletak di kawasan Docklands, Victoria, Australia, adalah roda observasi keempat tertinggi di dunia. Wahana ini dibuka untuk publik pada 20 Desember 2008.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Kabin Melbourne Star Observation Wheel mulai terangkat ke atas.

Ada 21 kabin pada kincir ria ini. Saat kabin mencapai puncak, pengunjung bisa melihat pemandangan Melbourne hingga sejauh 40 kilometer.

“Setiap kabin bisa diisi 20 orang. Jika ada yang menggunakan kursi roda, maka jumlah orang di dalamnya bisa dikurangi,” tuturnya.

Ya, menurut Jason, meski saat beroperasi Melbourne Star terus bergerak, namun para difabel, baik yang menggunakan tongkat maupun kursi roda, tetap bisa menaikinya dengan mudah.

“Saat mereka naik atau turun, kami akan siap melayani. Jika ada kejadian mendesak, kami bisa memberhentikan wheel dan membawa mereka segera keluar,” tuturnya sambil tersenyum.

“Keluarga dengan bayi juga bisa ikut naik. Yang tidak diperbolehkan adalah membawa stroller ke kabin. Pengunjung bisa menitipkannya di pintu masuk saat tiket diperiksa. Pada saat keluar, pengunjung bisa memintanya kembali,” tambahnya.

Sebelum menuju tempat masuk kabin, pengunjung akan melewati sejumlah ruangan yang diisi dengan gambar-gambar dan tulisan di dinding yang memuat sejumlah fakta penting tentang Melbourne dan negara bagian Victoria, Australia, misalnya budaya delapan jam kerja berasal dari Australia yang mulai diterapkan sekitar tahun 1856 atau two-way radio yang biasa dipakai oleh polisi dan sopir ambulans ditemukan pada tahun 1923 di Australia oleh polisi senior Frederick William Downie.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Jason Bajada, salah satu petugas di Melbourne Star Observation Wheel, Victoria, Australia.

“Polisi di Victoria menjadi badan pertama yang menggunakannya,” demikian bunyi salah satu tulisan di dinding itu.

Tempat terbaik

Di area sebelum masuk kabin, setiap pengunjung dilarang mengambil foto untuk memudahkan petugas mengatur para pengunjung yang akan masuk kabin. Satu per satu, pengunjung lalu akan diarahkan menuju kabin yang tersedia.

Kabin dengan luas sekitar 24 meter persegi ini berbentuk semacam kapsul dengan dinding-dinding kaca tebal yang tembus pandang, kecuali di bagian lantainya.

Di dalam kabin, pengunjung bisa menikmati pemandangan sambil berpegang di besi yang melintang di dinding kaca atau duduk di bangku bundar yang disediakan di tengah kabin.Saat kabin terangkat ke atas, pemandangan terhampar di depan mata tanpa terhalang apapun.

Jika menoleh ke bagian selatan, misalnya, pemandangan laut dan aktivitas di pelabuhan terhampar, sedangkan di sisi lain, pemandangan gedung-gedung dan taman serta kebun raya tidak kalah eloknya. Lebih jauh lagi, permukiman yang tertata rapi di daerah pinggiran bisa terlihat. Bahkan, jika beruntung, pengunjung bisa melihat samar daratan Phillip Island.

Semua pemandangan ini bisa dinikmati dari atas selama sekitar 30 menit.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Pemandangan di balik kabin dari atas Melbourne Star Observation Wheel.

Sore itu, lewat pukul 17.00, cahaya jingga mulai membentang di ufuk barat. Matahari mulai perlahan turun kembali ke peraduannya. Dengan pemandangan senja yang damai di balik kaca tebal, kabin Melbourne Star menjadi tempat terbaik untuk merenung sesaat betapa cepatnya waktu berlalu.

Saat langit mulai gelap, lampu-lampu di tangan-tangan Melbourne Star mulai menyala. Warna-warni berkelap-kelip. Pemandangan alam berganti menjadi lautan cahaya dari berbagai tempat di Melbourne dan sekitarnya.

 “Mereka suka melihat cahaya berwarna-warni, tetapi yang paling populer adalah pada waktu terang menjelang matahari terbenam,” tuturnya.

Wahana ini disebut “star” karena tangan-tangannya yang menyerupai bintang tujuh seperti bintang yang ada di bendera Australia. Rupanya makin jelas bila lampu warna-warni dari lampu LED menyala kala malam tiba. Jika dibentangkan, rangkaian lampu itu mencapai panjang hingga 30 kilometer.

Kincir ria raksasa ini beroperasi mulai pukul 11.00 hingga pukul 22.00 waktu setempat. Tiketnya dibanderol dengan harga 36 dolar Australia untuk dewasa dan sekitar 22 dolar Australia untuk anak-anak.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Pemandangan kota Melbourne dari atas Melbourne Star Observation Wheel.

 (Tulisan ini merupakan bagian dari program “Jelajah Australia 2016”. Kompas.com telah meliput ke berbagai pelosok Australia pada rentang 14 Mei – 15 Juni 2016 atas undangan ABC Australia Plus. Di luar tulisan ini, masih ada artikel menarik lainnya yang telah disiapkan terbit pada Juli hingga akhir Agustus 2016. Anda bisa mengikuti artikel lainnya di Topik Pilihan “Jelajah Australia 2016”.)

Previous
Next