Skip to Content

Monday, September 23rd, 2019

Menjelajah Budaya Negeri Singa

Closed
by October 30, 2016 General
Kolam renang di Marina Bay Sands Singapura.

Singapura telah menjadi tujuan wisata yang tidak a kan pernah ada habisnya untuk dikunjungi dan dijadikan bahan cerita.

Modernitasnya menawarkan berjuta sensasi dinamika kehidupan perkotaan.

Mari lupakan sejenak patung Singa Merlion atau gedung tinggi dengan desain kapal di atasnya, Marina Bay Sands, atau Universal Studio.

Mengintip lebih dalam, ternyata Singapura juga menyuguhkan beragam kultur yang hidup berdampingan.

Lokasi yang perlu dikunjungi pertama adalah Malay Heritage Center, letaknya tak jauh dari Hotel Ibis Style Singapore. Butuh sekitar 10 menit dari hotel untuk sampai ke museum itu.

Untuk kendaraan menuju ke sana pun tak perlu repot menemukan transportasi umum, cukup memanfaatkan shuttle bus dari Hotel Ibis Style Singapore untuk menuju mass rapid transit (MRT) terdekat.

Malay Heritage Centre, sebuah bangunan museum yang dahulunya merupakan tempat tinggal kerajaan Malaysia di Singapura yang dikenal juga dengan sebutan Istana Kampong Gelam. Dalam pusat kebudayaan Malaysia ini menampilkan warisan dan budaya Melayu, termasuk peninggalan raja-raja Melayu yang berkuasa di Singapura.

Menilik sejarahnya, Singapura merupakan bagian dari Kerajaan Melayu sebelum Sir Stamford Raffles tiba di Singapura pada 1819 dan menjumpai perkampungan Melayu.

Bangunan berlantai dua dengan cat kuning itu memiliki nuansa tradisional yang kuat melalui dominasi kayu sebagai lantainya.

Berbagai foto dari beragam suku dan budaya yang berpengaruh di Singapura terpajang rapi dalam satu sudut.

Salah satu foto memajang satu keluarga Suku Jawa yang diperkirakan berasal dari abad 19 hingga abad 20.

Selain itu, ada potret kaum Bawean yang berasal dari utara Surabaya, yang menjadi salah satu suku bangsa Melayu Singapura.

Sekitar 40 meter dari Malay Heritage Centre, Masjid Sultan bisa menjadi pilihan untuk melaksanakan salat.

Masjid itu juga dibuka untuk pengunjung lainnya asalkan mengenakan pakaian sopan.

Masjid dengan kubah emas ini merupakan masjid pertama yang dibangun di Singapura.

Masjid ini dibangun pada 1826 oleh masyarakat Jawa yang banyak berdagang di Singapura sehingga kerangka bentuknya menyerupai rumah limasan.

Kemudian, Masjid Sultan dirombak pada 1920 hingga saat ini masih berdiri kokoh.

LOKASI FAVORIT

Tidak hanya dihiasi berbagai peninggalan kebudayaan Melayu, Singapura juga dipenuhi oleh etnis Arab.

Buktinya, Masjid Sultan dikelilingi oleh jalan-jalan dengan nama Arab, seperti Arab Street, Baghdad Street, Kandahar Street, dan Bussorah Street.

Berjalan sedikit menyeberang ke arah Arab Street seperti menapaki suasana di Malioboro, Yogyakarta, hanya saja penjualnya keturunan etnis Arab.

Uniknya, Arab Street menyembu nyikan berbaris bangunan toko tua berlantai dua.

Lokasi ini menjadi favorit turis asing karena ada bermacam kafe dan kedai yang juga menjual pernakpernik.

Namun, harga yang ditawarkan lumayan mahal jadi lebih baik beralih ke Little India untuk memperoleh barang dengan harga terjangkau.

Berkunjung ke Little India, sebaiknya dilakukan menjelang malam hari untuk bisa menikmati cahaya lampu yang indah.

Bermacam-macam buah tangan bisa dibeli dengan harga sangat murah.

Banyak toko yang menawarkan tiga jenis barang untuk Sin$10. Tentu saja, produk yang dijual khas India, seperti makanan, pakaian, dan pernak pernik lainnya.

Kota kecil India yang dikelilingi gedung-gedung itu juga berdiri Mustafa Centre, sebuah mal yang menawarkan segala jenis kebutuhan.

Mencari cokelat khas Singapura pun bisa ditemukan di mal ini.

Membunuh malam di Little India tak akan menyisakan kesan bosan, bahkan waktu terasa cepat berakhir.

Tenang saja, Mustafa Centre buka 24 jam untuk melayani kebutuhan sehari-hari sampai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Jika sudah puas, taksi bisa menjadi pilihan untuk kembali ke hotel dengan argo sekitar Sin$6-Sin$7 menuju Ibis Hotel Styles Singapura.

Menjelajah Budaya Negeri Singa Masjid Sultan Arab Street fav ka ka jupylu le L mdt Lh Ibis Styles Hotel Singapura terletak di persimpangan kawasan MacPherson dan Jalan Aljunied. Kesan muda dan atraktif yang dipenuhi warna-warna cerah, seperti merah, kuning, dan oranye menjadikan hotel ini pantas untuk jadi referensi menginap.

Harga kamar bervariasi dimulai dari Sin$138++ per malam termasuk sarapan dan akses Internet.

Untuk akses transportasi umum, pengunjung tak perlu khawatir karena lokasi, Ibis Styles Singapore dekat dengan stasiun MRT, seperti Tai Seng (circle line), Potong Pasir (northeast line), dan Paya Lebar (eastwest line) dan hanya butuh 20 menit dari dan menuju Bandara Changi International.

Previous
Next