Skip to Content

Wednesday, November 13th, 2019

SPEKTRUM BISNIS: Pasar Seni Rupa Makin Meriah, di Mana Pemerintah?

Closed
by August 29, 2016 General
Diena Lestari

Tahun ini, perhelatan seni rupa di Indonesia begitu meriah. Usai diselenggarakannya Artjog yang memasuki tahun ke-9, menyusul Art Stage Jakarta pada 26-28 Agustus, baru-baru ini ditutup gelaran Bazaar Art Jakarta (26-28 Agustus), yang memasuki tahun keenam.

Tidak hanya para pencinta seni rupa yang dimanjakan dengan art fair atau pasar seni rupa ini, tetapi sejumlah galeri dari dalam maupun luar negeri cukup sibuk menghadapinya. Manajemen galeri seni rupa di Indonesia yang selama ini juga mengikuti gelaran serupa di luar negeri seperti Venice Biennale, Art Basel Swiss, Art Stage

Singapore, Tokyo Art Fair, dan lainnya, mengaku mengikuti pasar seni rupa menjadi ajang penting untuk memperkenalkan seniman Indonesia ke publik, sekaligus menambah jaringan kolektor.

Dari tiga gelaran pasar seni rupa yang belum lama berlangsung, memiliki karakter tersendiri. Contohnya Artjog yang berubah menjadi Mandiri Artjog, sedikit berbeda karena gelaran skala internasional ini tidak menyertakan galeri. Karya kontemporer yang dipamerkan seringkali mencengangkan baik secara konsep maupun visual. Ajang Art Stage Jakarta yang baru pertama kali di gelar di Indonesia, menjadi menarik karena di negara tetangga, Singapura, perhelatan Art Stage Singapore sudah memasuki tahun ke-6.

Pasar di Indonesia yang dinilai cukup seksi di mata Pendiri dan President Art Stage Singapore Lorenzo Rudolf. Hal itu menggerakkannya untuk menghadirkan Art Stage Jakarta. Tidak tanggung-tanggung upaya Rudolf didukung oleh para pencinta seni rupa, dan manajemen galeri baik dari nasional mau- pun luar negeri contohnya saja dari Deddy Kusuma, DR (HC) Ir. Ciputra, Alex Tedja, Tom Tandio, Wiyu Wahono, Mien Uno, dan Farah Quinn.

Bergeser pada penyelenggaraan Bazaar Art Jakarta yang tahun ini mendapatkan dukung an penuh dari Bank UOB. Selama enam tahun penyelenggaraan terlihat perubahan yang cukup signifikan. Pada tiga tahun awal penyelenggaraan, Baazar Art Jakarta hanya diikuti oleh galeri nasional. Menginjak tahun keempat, gelaran ini mulai dilirik oleh galeri internasional dan kolektor mancanegara.

Dari seluruh gelaran pasar seni rupa yang berlangsung nyaris bersamaan ini, terlihat bahwa apresiasi terhadap karya tidak terbatas pada penghayat seni tetapi juga publik yang tak tertarik dengan seni kreatif. Bertambahnya jumlah orang kaya baru di Indonesia yang jenuh mengalo- kasikan pundi-pundi rupiahnya dengan membeli mobil, atau barang mewah, mulai melirikfine art.

Tidak dapat dinafikan bahwa perhelatan pasar seni rupa dapat dijadikan sebagai ajang untuk bertukar wawasan, dan membangun kerangka berpikir yang kuat bagi para kolektor baru untuk mulai dan melengkapi koleksi.

POSISI PEMERINTAH

Dinamika yang berkembang di pasar seni rupa Tanah Air memang mengejutkan meskipun minim dukungan dari pemerintah. Sebut saja Heri Pemad, pendiri Artjog. Dia

mengakui peran pemerintah sangat minimbahkan tidak terlihat sama sekali dalam gelaran seni rupa. Padahal, efek berganda yang

ditimbulkan dari pasar seni rupa berskala internasional sangat besar. Selain itu, layaknya pasar konvensional, dari pertemuan tersebut akan berujung pada promosi karya seniman dan transaksi dengan nilai nominal dari tataran jutaan rupiah hingga miliaran rupiah.

Pertanyaan mengenai di mana peran pemerintah semakin santer jelang gelaran Art Stage Jakarta. Bahkan dorongan agar pemerintah melalui BUMN membuat art fair kembali mengemuka. Setelah sebelumnya pada masa Mari Elka Pangestu masih menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengerucut ide membuat pasar seni tahunan. Sayangnya, niat ini terganjal masalah pajak dan bea cukai.

Dorongan agar Badan Ekonomi Kreatif untuk menindaklanjuti gagasan ini datang dari kritikus seni rupa dan para pelaku, salah satunya Agus Dermawan T. Namun, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf justru menilai pemerintah tidak perlu menggelar pameran karena pemasukan negara sudah cukup dari pajak saat dilakukannya transaksi fine art.

Komitemen pemerintah cukup dari sisi regulasi ekspor dan impor benda seni. Dalam hal ini, Triawan menjanjikan untuk memberikan kemudahan dari regulasi sehingga tidak terlalu sulit mengurus di bea cukai. Apakah hal ini dapat segera terwujud atau hanya berhenti dalam tataran janji yang melenakan? Kita tunggu saja

Previous
Next