Skip to Content

Wednesday, October 16th, 2019

Tegas dalam Perencanaan

Closed
by October 23, 2016 General
/BISNIS/AZIZAH NUR ALFI

Usia muda tak menghalangi sosok Rena Luciani Husada menajamkan bakat bisnis dan naluri kepemimpinannya. Pada 2010, tepatnya saat usianya menginjak 21 tahun, dia dipercaya untuk menimba pengalaman dalam bisnis keluarga yakni jaringan manajemen Kagum Hotel.

Bisnis dengan aset miliaran rumpiah ini dipercayakan oleh sang ayah, Henry Husada yang selama ini dikenal sebagai pengusaha hotel dan factory outlet di Bandung, Jawa Barat.

Meskipun Rena bekerja di perusahaan keluarga, tetapi tetap diberikan target pencapaian oleh sang ayah. Tidak hanya pandai-pandai mencari jawaban atas tantangan yang terbentang di depan mata, tetapi Rena juga harus terus belajar agar bisnis hotel yang dipercayakan kepadanya dapat terus berkembang.

Tidak hanya berkembang di Kota Kembang saja, tetapi jaringan hotel dari Kagum Grup dapat meluas hingga ke beberapa kota seperti Jakarta, Cilegon, Lampung, Yogyakarta, Bali, dan Palembang.

Pada awal terjun ke bisnis hotel, putri sulung dari empat bersaudara ini diberikan tanggung jawab pemasaran, operasional hotel, dan ekspansi. Selain itu, penyandang predikat terbaik dari program MBA di University of Wales Singapura tersebut juga terjun langsung untuk desain arsitektur hotel.

Hotel bintang empat, Gino Ferucci yang berlokasi di Braga, Bandung merupakan capaian perdana perempuan yang sempat bercita-cita sebagai dokter ini. Rena mengenang banyak tantangan yang harus dihadapinya ketika mendapatkan kepercayaan sang ayah. Namun, semua tantangan itu dapat dilewatinya karena perencanaan yang kuat.

Rena mengaku perjalanan hidupnya tak pernah lepas dari perencanaan. Sebab, dengan perencanaan yang baik maka 50% kesuksesan telah tercapai. Faktor lain yang membuat kesuksesan dapat tercapai adalah kerja keras, strategi, dan keberuntungan. “Bagi saya, keberhasilan adalah ketika saya bisa mencapai apa yang saya rencanakan,” tuturnya.

Perencanaan yang matang untuk mengendalikan bisnis keluarga, sudah disiapkannya sejak duduk di bangku kuliah. Dia mengambil konsentrasi pendidikan bidang perhotelan dan manajemen pariwisata di Queen Margareth University, Singapura. Dalam periode yang sama, dia menempuh Master of Business Administration University of Wales, United Kingdom (Management Development Institute of Singapore). Teori pendidikan lantas diaplikasikan dalam bisnis Kagum Group.

FASILITAS TERINTEGRASI

Ketertarikan Rena pada bidang perhotelan dan pariwisata karena melihat bidang ini memiliki prospek yang baik untuk terus berkembang. Dia melihat karakter masyarakat Indonesia yang royal didukung dengan mobilitas yang tinggi serta kemudahan transportasi, membuat bisnis ini akan terus bergeliat dan menjanjikan. Karakter masyarakat ini pula diadopsi Kagum Group sehingga mengembangkan fasilitas yang saling menunjang. Puluhan hotel dan factory outlet tersebar di beberapa wilayah Indonesia.

“Iya, semua disesuaikan. Pariwisata itu terintegrasi. Ada hotel, factory outlet, kuliner khas Indonesia, transportasi. Misalnya, jika menginap di hotel, tamu akan mendapat voucher berbelanja di factory outlet,” imbuhnya.

Dari Bandung, Kagum Group lantas berekspansi ke Bali dan Yogyakarta. Kini, Kagum Group juga akan membangun hotelnya di Cilegon, Palembang, dan Lampung. Rena juga mulai melirik hotel dengan konsep syariah, seperti Grand Seriti di Yogyakarta. Selanjutnya, dia akan mengembangkan hotel berkonsep syariah di Bali.

Menurutnya, pasar muslim menjanjikan karena meningkatnya kesadaran wisawatan terhadap  aturan-aturan keyakinannya. Dia ingin memastikan tidak ada hambatan bagi warga muslim berwisata ke berbagai tempat, dengan menyediakan fasilitas yang menunjang. Apalagi, di Pulau Dewata belum banyak hotel syariah yang memberikan pelayanan bagus dan fasilitas lengkap.

“Targetnya ingin menjadi the best hospitality company di Indonesia,” ujarnya..

Keberadaan pesaing bisnis yang makin banyak, juga tak menyurutkan langkahnya. Bagi Rena, pesaing justru membuat Kagum Group makin hidup. “Bandung dikenal dengan fesyen outlet, karena banyak pesaing. Kalau hanya satu mana bisa dikenal,” imbuhnya.

Kepiawaiannya mengendalikan bisnis hotel tidak lepas dari pola pendidikan yang diterapkan keluarga. Sang ayah mengenalkan bisnis bahkan sejak Rena masih kecil. Dia ingat betul kerap diajak ke berbagai pertemuan bisnis maupun melayani pembeli di factory outlet.

Pola pendidikan sang ayah kini juga diterapkan pada buah hatinya yang baru berusia setahun. Dia kerap membawa sang buah hati bolak balik berkunjung ke Jakarta-Bandung, bahkan sejak usia 7 hari.

Dari sang ayah, Rena belajar menjalin hubungan dengan sesama rekan bisnis, konsumen, dan karyawan. Dia menanamkan betul bahwa mereka adalah bagian dari keluarga. Dengan memperlakukan prinsip tersebut maka diharapkan pelayanan yang diberikan oleh semua lini yang bertanggung jawab akan memuaskan hati pelanggan. 

Previous
Next