Skip to Content

TPIA Belum Berencana Melokalisasi

Closed
by October 17, 2016 General
Pekerja mengoperasikan mesin pada uji coba produksi pabrik PT Petrokimia Butadiene Indonesia (PBI) yang berlokasi di komplek pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Jumat (25/10). Pabrik butadiene pertama di Indonesia berkapasitas produksi 120.000 ton per tahun.

JAKARTA—Emiten produsen petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. belum berencana kembali melokalisasi bahan baku produksi setelah pembatalan rencana kerjasama dengan BP Singapore Pte. Ltd.

“Sudah tidak , harga minyak seperti ini dia tidak mau. Lebih karena harga minyak dunia yang sekian tahun ini rendah jadi added value-nya buat BP tidak menarik buat mereka tidak menguntungkan,” kata Suryandi, Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Chandra Asri Petrochemical kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Sebelumnya, emiten protrokimia terbesar di Indonesia tersebut rencananya akan membangun proyek condensate splitter. Bahkan akhir 2014 lalu kedua perusahaan tersebut sudah menandatangani nota kesepahaman untuk melanjutkan proyek itu.

Suryandi menyebut, sebenarnya jika proyek tersebut bisa lanjut berjalan pihaknya akan sangat diuntungkan dengan efisiensi pembelian bahan baku nafta, karena 40% hingga 50% tak lagi harus diimpor.

Saat ini pihaknya harus mengimpor hampir 100% bahan baku nafta dari kawasan Timur Tengah. Sisanya, dengan jumlah kecil dalam bentuk kondensat harus diimpor dari berbagai negara. Padahal, lanjut dia, biaya pembelian bahan baku menjadi penyumbang paling besar bagi biaya produksi perseroan.

Mengutip laporan keuangan perseroan bersandi TPIA tersebut, pada semester I/2016 biaya bahan baku mencapai US$432,64 juta. Jumlah itu sekitar 73% dari total biaya produksi yang sebesar US$596,2 juta.

Di sisi lain, untuk memacu kinerja keuangan ke depan pihaknya andalkan pasar dalam negeri dan mengurangi eskpor. Menurut Suryandi pasar dalam negeri lebih menguntungkan. Saat ini perseroan menjual produknya di dalam negeri dengan harga lebih tinggi 5% hingga 7% dari produk impor.

Hal itu membuat margin perseroan semakin lebar. Sebelumnya, pada semester I/2016, laba kotor perseroan mencapai US$217,96 juta meningkat 147% dari US$88,21 juta pada semester I/2015.  Sebagai hasilnya, margin laba kotor melonjak menjadi 24,7% dari 11,0% secara year on year (yoy).

Pihaknya akan mempertahankan margin di kisaran yang sama seperti yang diraih sepanjang semester I/2016 sekitar 25% hingga tahun ini berakhir bahkan berlanjut pada 2017. Perseroan memang ingin terus memperbesar pangsa di dalam negeri. TPIA dengan kapasitas produksi yang dimiliki baru memenuhi 40% permintaan domestik.

Suryandi mengklaim, meski konsumen petrokimia dalam  negeri memiliki keleluasaan untuk menyerap produk impor yang lebih murah, produk TPIA masih menjadi primadona. Hal ini tak terlepas dari pasokan yang terjaga dan distribusi yang terjamin.  

“Karena konsumen akan berpikir jika membeli produk impor meski harganya lebih murah tapi pasokannya belum tentu berkesinambungan. Konsumen pun akan memikirkan waktu pengiriman karena terkait efisiensi,” ujarnya.

Sebagai gambaran, saat ini kapasitas produksi yang dimiliki perseroan mencapai 3,301 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut jika dirinci kapasitas produksi terbesar digunakan untuk Etilena yang mencapai 860.000 ton per tahun.

Sisanya, Polipropilena 480.000 ton per tahun, Propilena mencapai 470.000 ton per tahun, Py-gas 400.000 ton per tahun, Styrene Monomer 340.000 ton per tahun, Polietilena 336.000 ton per tahun, Mixed C4 315.000 ton per tahun dan Butadiena 100.000 ton per tahun. 

Suryandi menyebut, saat ini ekspor pihaknya hanya produk Py-gas yang jumlahnya sekitar 12,1% dari total kapasitas produksi emiten bersandi TPIA tersebut.

“Ekspor hanya Py-gas karena kami belum memikirkan untuk diolah di dalam negeri. Tinggal itu saja, itu pun dari total produksi tidak terlalu banyak dan kapasitas produksi lainnya untuk permintaan dalam negeri,” katanya.

Sementara itu, mengutip laporan keuangan perseroan, nilai maupun kontribusi ekspor setidaknya sejak 2013 terus menurun. Pada 2013 ekspor perseroan mencapai US$632,5 juta atau berkontribusi 25,2% terhadap total pendapatan bersih yang sebesar US$2,5 miliar.

Pada 2014 ekspor perseroan mencapai US$557,6 juta atau setara 22,6% dari total pendapatan yang sebesar US$2,46 miliar. Tahun lalu ekspor TPIA senilai US$230,6 juta atau setara 16,7% dari total pendapatan US$1,37 miliar. Untuk tahun ini, pihaknya enggan memprediksi nilai ekspor yang dapat dibukukan.

Previous
Next