Skip to Content

Thursday, August 22nd, 2019

Sektor Konstruksi & Properti Membaik

Closed
by December 29, 2016 General
/Ilustrasi

JAKARTA — Sektor konstruksi dan properti pada 2017 diprediksi tumbuh lebih baik, seiring dengan rencana pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.

PT Mandiri Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan laba bersih enam emiten sektor konstruksi pada tahun depan akan mencapai Rp5,86 triliun atau tumbuh 30,51% dari proyeksi akhir 2016, senilai Rp4,49 triliun.

Mandiri Sekuritas pun merekomendasikan buy untuk lima emiten konstruksi yakni PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON), dan PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP), serta rekomendasi netral untuk PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI).

Deputy Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja menuturkan, pemerintah sedang gencar dalam pembangunan infrastruktur dengan membuat jalan tol. Sementara itu, sektor properti juga dinilai akan tumbuh lebih baik pada tahun depan, sebab pada 2016, properti cenderung wait and see.

“Tahun depan, pertumbuhan konstruksi akan banyak didukung dengan belanja pemerintah,” ungkapnya, baru-baru ini.

Tjandra menilai sektor ritel pada tahun depan akan tumbuhan positif, karena makin meningkatnya raihan margin yang dibukukan emiten perdagangan eceran. Dia menuturkan, pada 2016, emiten ritel telah banyak melakukan efisiensi sehingga kinerja keuangan pada tahun depan berpotensi membaik.

Untuk sektor perbankan dan keuangan, sambungnya, masih dalam kondisi netral sebab rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) masih membayangi kinerja industri tersebut. Dia menuturkan, sektor perbankan juga pada tahun depan masih dibayangi akan kesulitan likuiditas.

Di sisi lain, sektor barang-barang konsumsi (consumer good), katanya, akan memasuki masa pemulihan dan menanti peningkatan upah pekerja.

Mandiri Sekuritas pun memproyeksi sektor telekomunikasi akan tumbuh dua digit pada tahun depan. Menurutnya, penggunaan mobile Internet ditambah dengan cash flows yang kuat menjadi pendukung ekspansi jaringan perusahaan telekomunikasi.

INDEKS SEKTORAL

Adapun indeks properti, real estat dan konstruksi sepanjang tahun berjalan tumbuh 3,14%, dan tumbuh 121% dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, indeks infrastruktur, utiliti dan transportasi sepanjang tahun ini tumbuh 3,58% dan meningkat 45,54% dalam lima tahun terakhir.

Adapun, Wijaya Karya baru-baru ini telah merampungkan penerbitan saham baru (rights issue) dengan perolehan dana senilai Rp6,1 triliun. Emiten bersandi saham WIKA itu melakukan penambahan modal dengan rights issue untuk mendanai proyek infrastruktur.

Direktur Utama Wijaya Karya Bintang Perbowo mengatakan, penambahan modal itu diyakini akan semakin meningkatkan kemampuan finansial perseroan untuk melaksanakan berbagai proyek pengembangan infrastruktur Tanah Air. WIKA pun mengklaim telah mengantongi kontrak baru senilai Rp53,6 triliun sampai menjelang akhir 2016.

Proyek yang kini ditangani WIKA antara lain kereta cepat Jakarta-Bandung, kereta ringan Jakarta, jalan tol Gempol-Porong, tol Bogor Outer Ring Road, dan Bendungan Cipanas I.

Sementara itu, lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service memproyeksi pada 2017, kinerja emiten sektor komoditas dan infrastruktur di Indonesia paling gemilang.

Moody’s memerkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan mencapai 5,2% dan mendorong kenaikan laba bersih korporasi yang melompat 2%-6%. Pertumbuhan ekonomi diproyeksi mencapai 5,2% pada tahun depan didorong oleh digenjotnya pembangunan infrastruktur pemerintah.

Brian Grieser, Vice President Senior Analyst Corporate Finance Group Moody’s Investors Service Singapore Pte., Ltd., memerkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi pendorong lonjakan pendapatan emiten pada 2017.

Pada 2017, PT Summarecon Agung Tbk. berharap bisa mendulang prapenjualan Rp4,5 triliun atau sama dengan target awal yang diusung pada 2016.  Michael Young, Direktur Keuangan Summarecon, menyebut salah satu yang menjadi faktor penentu bagi penjualan perseroan tahun depan yakni kondisi politik.

Outlook Riset NH Korindo pada 2017, memproyeksikan kebijakan Bank Indonesia melakukan pelonggaran kebijakan dengan menurunkan loan to value (LTV) dari 80% menjadi 85% akan meningkatkan gairah investasi sektor properti.

NH Korindo menilai kebijakan otoritas moneter Indonesia ini akan mendongkrak pertumbuhan segmen menengah ke atas, ditambah adanya insentif pemerintah dalam menyeimbangkan segmen perumahan kelas menengah ke bawah.

Previous
Next